Naskah Drama – IMPIAN !!!


10 tahun lalu,

Aku sangat beruntung bisa mengenal seorang laki-laki yang sangat luar biasa. Seorang yang aku kagumi, yang telah memberikan aku inspirasi tentang hidup ini. Seorang laki-laki berperwakan kurus, hitam, tinggi dengan semangatnya setinggi langit.

Namanya Hanif Arbianto panggil saja Hanif. Ia salah satu siswa SMA 1 Magelang. Ibunya buruh cuci dan bapaknya seorang pemulung. Tiap hari Ia harus jalan kaki menempuh 10 km untuk ke sekolah demi impiannya.

Hanif :”   Koran … Koran … Koran … Yang koran yang koran. Jawa Pos, Kompas, Surya” (Sambil menodongkan koran ke mas yang berada di Lampu Lalu lintas)

Madi :” Nif, ngapain kamu disini ?”

Hanif :” Aku lagi jualan koran. Lha, kamu sendiri ngapain disini ?”

Madi :” Aku lagi nyari uang sampingan buat nambahin kekurangan dikeluargaku” (sambil lesu)

Hanif :” Oooh… Ya sudah. Aku ngelanjutin berjualan lagi ya… “

Madi :” OK ! “

Hanif meninggalkan Madi yang sedang mencari pekerjaan.

Madi :”   Ya Allah … Ternyata mencari uang susah banget. Berilah hamba-Mu ini kesabaran Ya Allah, agar mendapatkan pekerjaan untuk membantu ibu dan bapak dirumah. Amin…”

Keesokan harinya di SMA 1 Magelang.

Madi :” Nif, Hanif ….” (sambil melambai-lambaikan tangannya kepada Hanif).

Hanif :” Apa sih Mad ?”

Madi :” Kamu sudah lihat pengumuman di mading?”

Hanif :” Memangnya pengumuman apa sih ? Kok sampai heboh sendiri kamu tuh !”

Madi :” Ii..tuu…” (sambil bergelagapan)

Hanif :” Itunya siapa ?”

Madi :” Bukan bukan … Itu lhooo.. Brosur beasiswa untuk siswa berprestasi dari Universitas Indonesia”

Tiba-tiba Tania lewat dan mengejek Hanif.

Tania :”   NGIMPIII kamu Nif ! Mana bisa kamu dapetin beasiswa itu ! Ya pasti aku donk yang dapat beasiswa itu! Jangan berharap terlalu tinggi kamu, Nif ! ”

Madi :” Jangan gitu kamu Tan”

Tania   :”            Yaaa itu kan kenyataan. Memangnya mau gimana lagi ? Haah !!!” (sambil menyombongkan dirinya)

Madi :” Jangan sombong kamu Tania. Ndak baik!”

Tania :” Aah, terserahlah … Jangan berharap terlalu tinggi kamu !”

Madi :” Sudahlah Nif, kita pergi saja. Males bicara sama orang sombong !”

Madi dan Hanif pun meninggalkan Tania sendirian.

Tania :” Dasar orang miskin nggak tahu diri !!”

Tania sendirian, tidak ada yang menemani Tania karena kesombongannya. Madi dan Hanif berjalan menuju kelas dan Hanif tidak sengaja menabrak Tara yang sedang membawa banyak buku.

Tara :” ADUUH !!!” (buku Tara jatuh)

Hanif :” Maaf Tara.. Aku ndak sengaja”

Tara :”   Iya ndak papa kok.. Oh ya, kamu sudah melihat pengumuman di mading ?” (sambil menata buku Tara)

Hanif :” Oh, itu … Aku sudah lihat, ya kan Mad ?”

Madi :” Iya, kita sudah lihat. Kamu mau ikut beasiswa itu ?”

Tara :” Aku ikut kok. Kalian bagaimana ?”

Madi :”   Waah, enak ya kamu disana bisa menginap di Hotel, ke Jakarta gampang, tinggal naik pesawat.”

Hanif :” Iya, disana kamu enak, tinggal minta uang ke orangtuamu”

Tara :”   Tidak begitu juga… Aku gak pernah langsung minta uang ke orangtuaku. Aku nanti pakai    uang tabunganku sendiri.”

Hanif :” Aku juga pakai uang tabunganku”

Madi :” Iya,aku juga. Mau dapat uang dari mana lagi kalau gak menabung”

  Tania menghampiri Tara.

Tania :” Tara !! Ngapain kamu omong-omongan sama dua orang miskin itu !! “

Tara :”Eh… Tania … Jangan sombong kamu !”

Tania :” Biarin aku sombong. Kenyataannya kan emang gitu !” (dengan sok)

Tara :” Yaah sudahlah, aku gak mikirin kamu !”

Madi :” Ayo Nif, ayo Tar, kita pergi dari sini”

Hanif dan Tara :” Ayo… “ (mereka pergi meninggalkan Tania sendirian)

***

Saat dirumah Hanif.

Hanif :   (sambil memasukan uang ke celengannya) “Bismillah … Semoga aku bisa ke Jakarta dengan uang ini Ya Allah.. Amin”

Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah “CEEETIIIAARR”

Hanif :” YA ALLAH !!! Ibuuu….. ”

***

Keesokan harinya di SMA 1 Magelang.

Madi :” Nif, gimana sudah dapat berapa tabunganmu ?”

Hanif :” Aku ndak jadi ikut Mad “

Madi :” Lho… Kenapa ? ”

Hanif :”   Ibuku masuk Rumah Sakit Mad, uangku habis untuk biaya opname. Tabunganku pun juga belum cukup buat biaya opnamenya “

Madi :” Terus, kamu ndak jadi ke Jakarta ? “

Hanif :”   Enggak jadi Mad. Harapanku ke Jakarta udah kecil banget. Untuk pergi kesana. Sejak awal, sebenarnya aku sudah pesimis, soalnya aku ini anak orang miskin. Ibuku hanya seorang buruh cuci, bapakku cuma pemulung. Buat makan aja susah. Jadi, udah gak mungkin ! “ (dengan lesu)

Madi :”   Nif, kita ini memang miskin. Dari lahir udah miskin. Nggak punya apa-apa. TV aja ndak punya. Makan juga susah. Bapakmu mulung, ibumu buruh cuci, orangtuaku juga melarat. Tapi, apa dosa kita bermimpi ? Apa kita bisa dipenjara kalau kita bermimpi ? TIDAK ! Kita harus bermimpi Nif, karena dari mimpi semua bisa kita raih !! Camkan kata-kataku, Nif!” (dengan nada tinggi menyemangati Hanif)

Hanif :” Tapi kenyataannya sudah nggak mungkin,Mad ! Aku udah ditakdirin kayak gini. “

Madi :” Nif, kita itu ndak boleh menyerah pada nasib ! Pikirkan baik-baik kata-kataku itu !”

Madi meninggalkan Hanif.

Hanif terus memikirkan kata – kata Madi. ( dengan bingung sambil memegangi kepalanya )

Hanif :” Aaaaarrrrgggghhhhh ….. !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! “ (berteriak)

Tara :” Kamu kenapa, Nif ? ”

Tania :” Heii, orang miskin .. Ngapain kamu teriak-teriak !! Kayak orang gila aja … “

Hanif tidak menjawab pertanyaan Tara dan Tania. Hanif tetap diam dan mengingat perkataan Madi. Teringat perkataan Madi, Hanif memiliki rasa OPTIMIS kembali dan menceritakan semuanya kepada Tara dan Tania.

Hanif :”  Tara, tabunganku udah habis buat biaya opname ibuku dan tabunganku itu juga tidak cukup buat biaya opname ibuku “

Tara :” Terus, kamu ndak jadi ikut ? Gini saja, biaya kamu yang nanggung aku. Ndak papa kok, aku ikhlas “ (dengan rasa ikhlas)

Tania :” Yakin kamu, Tar ? Apa nanti uangmu nggak habis buat bantuin anak miskin itu ? “ (sombong)

Tara :”  Tidak selama aku bantuinnya ikhlas “

Hanif :” Tara… Apa aku tidak merepotkanmu ? “

Tara :”  Tidak kok,Nif. Aku senang membantu orang yang sedang kesusahan. Aku ikhlas “

Hanif :”  Terima kasih ya Tara. Dengan apa aku bisa membalas smua ini ? “

Tara :”  Tidak usah Hanif “

Hanif :”  Aku akan membalasnya dengan AKU HARUS BISA MENDAPATKAN BEASISWA ITU “

Tara :”  Ok !! “

Tania :” Mana bisa kamu dapat beasiswa itu,Nif… “

Hanif :” Aku akan berusaha demi meraih cita-citaku “

Tania :”  Yaaah, terserah kamu. Yang pasti aku yang bisa dapatin beasiswa itu “ (menyombngkan diri)

Hanif :”  Terserah kamu Tan mau bilang apa. Yang pasti aku berusaha demi meraih cita-citaku”

Hanif dan Tara meninggalkan Tania. Mereka mencari Madi untuk menyampaikan berita bahwa Hanif ikut test beasiswa tersebut. Dua hari telah berlalu, hari yang sudah ditunggu akhirnya tiba juga. Hari itu Hanif, Tara, Madi dan Tania pergi ke Jakarta untuk mengikuti test di Universitas Indonesia. Mereka optimis bisa mendapatkan beasiswa itu. Dan hasilnya keluar, jantung mereka berdebar kencang melihat hasil test itu dan …. Hanif, Tara dan Madi berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Tapi, Tania tidak berhasil mendapatkan beasiswa tersebut.

Hanif, Tara dan Madi :” Alhamdulillah …. “

 

 

 

Comment here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: